Kamis, 15 Desember 2011

Perempuan itu

Perempuan yang aku temui sekarang adalah orang yang sama seperti 20 tahun lalu.

“Azdan”
Suara seorang perempuan memanggil namaku di tengah hiruk pikuk  bis penjemput jemaah haji yang baru saja tiba di Jeddah.Seperti sudah direncanakan..KH. Amrullah memintaku untuk menjemput jemaah haji Indonesia kloter 70 yang tiba hari ini.Sebelumnya beliau berbisik, “Ada surprise buatmu tahun ini”  .
Ah sudah biasa beliau seperti itu, jika ada teman dekatku atau sahabat sahabatku dulu semasa di Indonesia salah satunya ada yang berangkat Umroh atau Hajj.
Mataku mencari cari diantara barisan kursi yang penuh sesak.Aku mengenal suara itu dengan baik.Itu suara Hasnah ,perempuan yang 20 tahun lalu meninggalkan aku untuk menikah dengan laki laki pilihan orang tuanya.
Mataku tertuju pada sosok yang seperti tak  asing lagi di penglihatanku.Mata bulatnya..senyumnya, tahi lalat di pipi kirinya, masih sama seperti dulu.Aku tak kuasa menahan tangis,menghampiri Hasnah dan memeluknya  erat erat,,menumpahkan kangen yang selama ini membebaniku.
“ Hasnah Ya?? Ini benar kau?” seperti tak percaya aku mengguncang bahunya. Ia Nampak gelagapan menerima perlakuanku.
“ Azdan kita bukan muhrim,,kenapa memelukku di tengah keramaian?lihat mereka memperhatikan kita dengan heran”.
“Tak apa Hasnah,,kau adikku,dulu aku tak berani menyentuhmu sedikitpun,nanti saja kita cerita,,aku akan mengantarmu hingga hotel.”
Ah….hari hari ku selanjutnya adalah Hasnah.Setelah kewajiban Haji usai , aku berjanji akan membawanya berkeliling kota Mekkah yang sudah aku tinggali selama 20 tahun.Kau tau Hasnah,,setiap tahun saat musim Haji tiba, aku selalu mencatat siapa saja jemaah yang aku kenal dari kampung kita.Aku mencari tau keberadaanmu.Dan aku selalu membayangkan suatu hari akan melihatmu diantara jemaah jemaah itu.Kau tau Hasnah,aku berdo’a di Multajam dengan bercucur air mata, minta pada Allah agar aku di pertemukan.Dan kali ini aku tak akan menyia nyiakan waktuku untuk bersamamu.
“Hallo Hjh Hasnah,hari ini aku akan menjemputmu ,kau bersiaplah,aku sudah dapat izin KH Amrullah “.Aku menelfon Hasnah.
“Ya ya ,sebentar aku bersiap.”
Ah,,,akhirnya tercapai juga mimpiku bertemu Hasnah.
“Ini mobil pribadiku, bagus kan?nanti aku akan membawamu ke maqom untuk bertemu kedua istriku dan ketujuh putra putriku,rumahku dekat Masjidil Harram.”
Aku melirik Hasnah yang tersenyum.
“Kenapa tersenyum?”
“YA,,,aku tak sabar bertemu mereka.”
Aku tahu pasti Hasnah tersenyum mendengar aku punya dua istri.
“Aku ingin punya 12 anak, di akhir zaman nanti akan bersaing siapa yang paling banyak umatnya,maka aku akan bangga memperlihatkan kedua belas anakku, tentunya tak mungkin jika hanya dari satu istri, aku akan menambahkan lagi menjadi empat, dan sepertinya Allah menyayangiku labih dari yang aku bayangkan,Allah menitipkan rizki yang melimpah sehinggan aku tak merasa kesulitan menafkahi mereka.”
Senyum Hasnah makin lebar, bahkan tawanya meledak.
“Hai,,,kau mentertawaiku Hasnah??” Aku pura pura bertanya padahal aku faham apa yang ada di pikiran Hasnah saat ini.
“Saat aku mendengar kau menikah dengan laki laki pilihan orang tuamu, aku minta kedua orang tuaku menyiapkan seorang perempuan untuk aku nikahi, karena aku telah merasa mapan dan cukup usia untuk menikah.Aku pulang ke Indonesia selama satu minggu untuk menikah dan kemudian membawa istriku menjadi mukimin di Mekkah.”
Aku menarik napas.Mataku melirik Hasnah yang tak lagi tersenyum, air mukanya berubah serius mendengar ceritaku.
“Kita sudah sampai “
“ Rumah makan Asia Tenggara ini milik orang Indonesia, ia sahabatku semenjak di Mojaoharot Alquraisy sar’e  Al Andalus Mekkah”
“Kau bilang akan menemui keluargamu?”
“Sebentar kita makan dulu,kau kurus sekali, seperti tak pernah makan saja.”
Aku menyiapkan menu yang aku pikir cocok di lidah Hasnah.Daging kebab, ayam kare, nasi kebuli dan banyak macam sayur dan buah.
“Kenapa pesan banyak sekali makanan?aku tak bisa makan sebanyak ini.”
“Ini porsi makan orang Arab, lihat badan mereka yang gemuk? Itu karena mereka makan tiga kali porsi ini sehari, ayo sudah makan yang banyak,,aku tak suka melihat perempuan kurus.”
“Aku akan bungkus sisanya untuk aku bawa pulang”
“Ah jangaaan,,memalukan saja, ini bukan Indonesia, nanti aku pesan satu paket untuk teman teman di hotel,tunggu sebentar”
Aku meninggalkan Hasnah di mejanya.
“ Ah,,dasar Hasnah,,tak berubah dari dulu,ia selalu bungkus makanan sisa jika makan di rumah makan” Gumamku tersenyum terkenang masa lalu bersamanya.
“Perut sudah kenyang, sekarang kita belanja oleh oleh”
Mobil mewah itu berhenti di parkiran sebuah Mall besar.
“Ayo Hasnah , pilih barang kesukaanmu, biar aku traktir kau selama di sini.”
Kami berkeliling dengan mendorong troly kosong. Lama sekali berkeliling, tapi tak satu pun barang diambil Hasnah.
“Hai , cepat ambil yang kau mau Hasnah, sebentar lagi Mall ini akan tutup.Kau tau,di Mekkah mall tutup ba’da Asar.”
“Aku tak membutuhkan apapun Azdan, lagi pula semua barang di sini mahal harganya.”
“Taka pa, kau bawa dompetku, biar kau tau aku punya banyak uang untuk sekedar membelikanmu oleh oleh, aku tau, kau tak akan menerima pemberianku jika berbentuk uang, tapu ku harap kau akan mengenangku dengan barang barang yang aku belikan untukmu.”
Hasnah mengambil selembar sajadah.
“Ah,,,jangan sajadah,,di rumah aku punya banyak dank au boleh ambil nanti”
Aku mengembalikan sajadah itu di tempatnya.Troly nya masih kosong.Lalu Hasnah mengambil sekotak kurma isi setengah kilo.
“Jangan satu, ambil 5 kotak besar isi satu kilo,biar teman temanmu bisa menikmati.”
Hasnah hanya tersenyum.
Aku menuntunnya ke sebuah toko  perhiasan.
“Pakailah gelang ini”
“Ah jangan Azdan,,ini terlalu mahal”.
“Jangan menolak, ini buatmu, jangan bilang kalau kau tak suka perhiasan emas.pakai saja, jika nanti kau butuh uang, kau bisa menjualnya kembali”.
Sepertinya Hasnah merasa tak enak menerima pemberianku. Tapi aku tak peduli, aku hanya ingin memberinya apapun yang aku mau beri,.
Ah Hasnah, seandainya dulu kau jadi istriku, maka aku tak akan mencari istri empat, cukup denganmu saja hidupku sudah lengkap.
Kami pulang dengan bagasi penuh belanjaan,aku membelikan Hasnah karpet penutup tempat tidur, agar saat dia tidur, dia memimpikan aku. Dan banyak barang yang aku beli padahal Hasnah menolaknya.
Pertemuan dengan keluarga besarku di Maqom. Hasnah Nampak bahagia.Aku mengantarnya kembali ke Hotel tempatnya menginap.
Hari ini dua hari menjelang kepulangan Hasnah kembali ke Indonesia.Aku tau rombongan akan bertolak ke Madinah sore ini.Ku siapkan kendaraan dan membawa serta keluargaku untuk menemuai Hasnah di Hotel.
Tapi aku kecewa karena terlambat.Rombongan yang membawa Hasnah sudah bertolak menuju Madinah.
Aku menelfon Hasnah dengan suara bergetar.
‘ Kau jahat, kenapa tak menungguku? Aku akan mengantarmu hingga Madinah, bahkan kalau perlu ku antar kau hingga bandara, aku ingin melihat pesawat yang membawamu, untuk sekedar mengucapkan selamat tinggal.”
Aku menangis,, ya menangis seperti anak kecil di tinggal ibu nya. Hatiku kosong  dan seperti limbung.
“Maafkan aku Azdan, jadwalnya dimajukan dan sekarang aku sudah dalam bis menuju Madinah,terimakasih atas semuanya, dan maaf tak menemuimu dulu.”
Suara Hasnah yang hampir tak bisa aku dengar.
“Aku marah, tapi tak apalah, aku yakin kita akan bertemu lain waktu, tunggu aku di Indonesia, aku akan pulang di bulanMaulud tahun ini,”
“Oke Azdan, sampai nanti’.Hasnah pamit.
Ah dasar Hasnah, Kau tak tau betapa aku merasa kehilangan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar