Senin, 19 Desember 2011

Phone 2

Assalamualaikum Ukhtii,Kaifa haluki?”Aku menyapa dengan penuh haraf Hasnah sedang punya waktu berbincang denganku.
“Waalaikumsalam Akhii, Alhamdulillah Bil Khoir” ramah hasnah menjawab telfonku.
“Semoga aku tidak mengganggu waktumu Ukhti? Aku ingin berbincang denganmu.”
“Ah tidak tidak, sama sekali tak terganggu, terimakasih mau menyambung silaturrahmi.”
“Hasnah..” aku berhenti sejenak.
“Ya Akhii..?”
“Ma dza hayaatuki?”
“Alhamdulillah akhii, hidupku  baik baik di sini”
“ Bagaimana kau mensikapi hidupmu Hasnah?” aku bertanya agak hati hati.
“ Al hajj…ketika aku hidup, menjadi apa atau siapa, menjadi sesuatu atau seseorang, maka aku akan menghidupkannya dengan sepenuh hatiku.”
“Apa yang kau lakukan saat sedih?”
“Aku akan menangis, sampai habis kesedihanku dan akhirnya akan kembali tersenyum jika aku menemukan penawarnya”.
“Kau bahagia dengan hidupmu Hasnah?”Aku mencoba mengorek hati Hasnah.
“Yaa Al Hajj…bukankah kebahagiaan itu sifatnya samar??terkadang hidup tidak selalu berjalan mulus... butuh 'batu kerikil' supaya kita ber-hati2... butuh 'semak duri' supaya kita waspada... butuh air mata supaya kita tahu merendahkan diri... butuh masalah supaya kita tahu bersandar kepada Allah...
Masalah sebesar apa pun akan terasa ringan bagi hati yg bersyukur..
Karena, bukan kebahagiaan yg menjadikan kita bersyukur, tetapi hati yg bersyukur yg menjadikan kita berbahagia...Maaf, aku mencontek dari kata kata KH Khoer saat berceramah”
“Tak  apa Hasnah, apapun katamu, akan menyejukan jiwaku” Aku tersenyum mengingat tanpa sengaja aku merayunya.
“Hahaha”
Tawa Hasnah di seberang sana. Terus terang, aku sering merindukan tawanya, dulu saat masih bersama dia, aku lihat dia adalah gadis yang angkuh dan pemarah, aku sangat hati hati bicara karena takut kalau dia jadi tersinggung dengan semua ucapanku.Tapi sekarang Hasnah nampak lebih ramah, dan aku senang.
“Oh ya Hasnah,mmmmm…”Aku ragu ragu melanjutkan kata kataku.
“Ya Akhii,,kenapa tak diteruskan?”Hasnah nampak heran.
“Hmmm,aku ingin memberi kabar, kalau  kepulanganku di bulan Maulud ini adalah untuk menikahi seorang janda dengan tiga anak yang ditinggal meninggal suaminya 5 tahun lalu.”
“Oh ya?? Syukur Ahkii, jika sekarang kau bertambah istri, semoga Allah menambah Rizki atasmu, tapi, apakah kau mengenal perempuan itu?”
“Aku tidak begitu mengenalnya Hasnah, umurnya 2 tahun lebih tua dari aku,dia tinggal bersama Ummi dan Abi di pesantren, dan dia orang yang pantas aku santuni, mengingat anak anaknya yang masih kecil dan butuh nafkah.”
“Al Hajj,,bukankan untuk menikah butuh cinta? Lalu bagaimana kedua istrimu yang terdahulu, bukankah akan berkurang cintamu pada mereka dengan hadirnya istri ke tiga dan anak anaknya?”
“Hmmm, Hasnah..,kedua istriku dan anak anak kami mendapat cinta sesuai porsinya, kasih sayang dan perhatian seperti yang mereka butuhkan, aku menjalankan kewajibanku sebagai suami dan ayah yang aku fikir telah memenuhi apa yang seharusnya aku lakukan, tentunya berpilar pada ajaran yang aku yakini.Dan untuk cinta,,,bagiku cinta adalah Kau,, dan  kau tidak aku miliki, jadi untuk apa bicara cinta jika hanya menjadi penghias mulut saja.”
Aku tak mendengar jawaban Hasnah dari seberang telefon.
“Hallo Ukhtii,,kenapa diam? Apa ada yang salah dengan ucapanku?”
“ ‘Afwan Ahkii, bisa untuk tidak menghubungi aku lagi? Aku pamit, semoga semua kebaikan Allah berikan atasmu. Assalamualaikum..”
Telfon terputus dan aku kebingungan, apa aku salah bicara hingga membuat Hasnah marah?
Sejak itu aku tak lagi berani menelfon Hasnah.Bahkan sekedar berkirim salam lewat pesan saja aku tak berani.
Ah …..Hasnah, bicaralah agar aku tau apa yang ada di pikiranmu, apa yang kau rasakan di hatimu, maafkan kalau aku salah bicara, aku telah begitu percaya padamu.
Aku hanya memiliki kesejukan matamu Hasnah…..



Tidak ada komentar:

Posting Komentar